IDERAKYAT.COM – Suasana belajar yang seharusnya berlangsung nyaman di dalam ruang kelas kini berubah menjadi pemandangan memprihatinkan di SDN Cioray, Desa Kartanegla, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya. Puluhan siswa terpaksa mengikuti pelajaran di teras sekolah, bahkan harus berbagi ruang dengan aktivitas perkantoran setelah bangunan kelas mereka ambruk.
Bukan papan tulis dan meja belajar yang menjadi satu-satunya perhatian siswa. Di tengah kegiatan belajar, mereka juga harus menghadapi panas matahari, cipratan air hujan, hingga rasa khawatir ketika cuaca kembali memburuk.
Kondisi tersebut terjadi setelah salah satu ruang kelas II ambruk akibat diguyur hujan deras. Bangunan yang kondisinya sudah lapuk diduga memperparah kerusakan hingga akhirnya tidak lagi bisa digunakan.
Musibah itu bukan sekadar merusak satu ruang kelas. Tiga bangunan lain yang berada dalam satu deret juga terancam mengalami kerusakan. Bahkan, lima ruangan kini terpaksa dikosongkan karena dinilai membahayakan keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
Satu ruangan lainnya sudah lebih dahulu tidak digunakan setelah bagian atapnya roboh.
Akibat keterbatasan ruang, pihak sekolah harus memutar cara agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Siswa dipindahkan ke satu ruang kelas yang masih layak, ruang kantor, dan sebagian lainnya ditempatkan di teras sekolah.
Sejumlah rombongan belajar bahkan terpaksa digabung dalam ruangan yang terbatas. Situasi ini membuat proses pembelajaran jauh dari kondisi ideal.
Bagi anak-anak, belajar di teras bukan perkara mudah. Mereka harus berusaha memahami pelajaran di tengah aktivitas lingkungan sekolah yang tidak selalu kondusif. Ketika hujan turun, kenyamanan belajar semakin sulit didapatkan.
“Ya, ini belajar di teras karena ruangannya ambruk. Harapannya cepat dibangun. Kondisi seperti ini tidak nyaman dan kami takut terkena air hujan,” ujar Nasarudin, siswa kelas V SDN Cioray, Selasa (3/11/2026).
Keluhan serupa disampaikan Husna. Ia mengaku kesulitan mengikuti pelajaran karena terganggu aktivitas di sekitar sekolah. Belum lagi cipratan air hujan yang kerap membasahi teras tempat mereka belajar.
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana kerusakan fasilitas pendidikan berdampak langsung terhadap aktivitas siswa. Di saat anak-anak seharusnya mendapatkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, mereka justru harus beradaptasi dengan keterbatasan.
Guru Khawatir Pembelajaran Tidak Maksimal
Kondisi ruang belajar yang tidak memadai juga menjadi persoalan bagi para guru. Selain harus mengatur ulang jadwal dan tempat belajar, tenaga pendidik dituntut tetap menyampaikan materi di tengah situasi yang serba terbatas.
Maya Nuraeni, salah seorang guru SDN Cioray, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut membuat konsentrasi siswa terganggu. Proses pembelajaran pun tidak bisa berjalan maksimal seperti ketika kegiatan belajar berlangsung di ruang kelas.
“Siswa tidak fokus belajar dengan kondisi seperti ini. Bangunan ini sangat memprihatinkan dan kami berharap segera diperbaiki atau dibangun,” kata Maya.
Ia juga berharap pemerintah memberikan bantuan darurat berupa tenda belajar agar para siswa tidak terus-menerus mengikuti pelajaran di teras sekolah.
“Kami berharap ada bantuan sementara berupa tenda belajar. Setidaknya siswa bisa belajar lebih nyaman sambil menunggu pembangunan ruang kelas,” tambahnya.
Plt Kepala SDN Cioray, Andi Ruspiandi, menjelaskan bahwa pemindahan kegiatan belajar merupakan langkah darurat untuk menghindari risiko keselamatan setelah bangunan sekolah mengalami kerusakan.
Menurutnya, pihak sekolah tidak ingin mengambil risiko dengan tetap menggunakan ruangan yang kondisinya sudah membahayakan.
“Ini akibat hujan, bangunan ambruk sehingga siswa dievakuasi. Untuk sementara, siswa disatukan di satu ruang kelas dan kantor, sedangkan sisanya belajar di teras,” jelas Andi.
Pihak sekolah kini berharap ada penanganan segera, mengingat kerusakan bangunan tidak hanya mengganggu kegiatan belajar, tetapi juga menyangkut keselamatan siswa dan guru.
Terlebih, kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan membuat penggunaan teras sebagai tempat belajar bukan solusi yang memadai untuk jangka panjang.
Di tengah kondisi tersebut, harapan perbaikan kini tertuju kepada pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tasikmalaya memastikan kerusakan SDN Cioray telah masuk dalam daftar usulan revitalisasi sekolah rusak.
Kepala Disdikbud Kabupaten Tasikmalaya, Wandi Herpiandi, mengatakan pihaknya terus berupaya mendorong agar perbaikan bangunan sekolah tersebut segera direalisasikan.
“Sudah masuk dalam daftar revitalisasi sekolah rusak yang diusulkan, tinggal menunggu perbaikan. Bahkan besok kami akan berangkat ke kementerian untuk memperkuat usulan agar perbaikannya dapat didahulukan,” ujar Wandi.
Langkah tersebut diharapkan bisa mempercepat penanganan kerusakan bangunan SDN Cioray, sehingga siswa tidak perlu terlalu lama menjalani pembelajaran dalam kondisi darurat.
Namun, sembari menunggu realisasi pembangunan, kebutuhan ruang belajar sementara juga menjadi hal mendesak. Bantuan tenda belajar dinilai dapat menjadi salah satu solusi agar kegiatan pendidikan tetap berlangsung tanpa mengabaikan kenyamanan dan keselamatan siswa.
Kini, bagi puluhan siswa SDN Cioray, harapan mereka sebenarnya sederhana: bisa kembali belajar di dalam kelas yang aman, duduk di bangku masing-masing, mendengarkan guru tanpa terganggu hujan, serta menjalani pendidikan sebagaimana mestinya.
Sebab, ambruknya bangunan sekolah bukan hanya menyisakan puing-puing material, tetapi juga menghadirkan persoalan serius bagi keberlangsungan pendidikan anak-anak di pelosok Kabupaten Tasikmalaya.
