Puluhan Siswa Belajar di Rumah Panggung, Disdikbud Tasikmalaya Cek Langsung Kelas Jauh SDN Kubangsari

Sebanyak 25 siswa Kelas Jauh SDN Kubangsari di Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, belajar di ruang sempit tanpa sekat dan bocor saat hujan, menanti pembangunan ruang kelas permanen.

IDERAKYAT.COM – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tasikmalaya memastikan akan meninjau langsung kondisi kelas jauh SDN Kubangsari yang berada di Kampung Manglid, Dusun Mekarjaya, Desa Kertaraharja, Kecamatan Taraju. Langkah tersebut dilakukan setelah kondisi bangunan tempat belajar puluhan siswa menjadi perhatian publik.

Kepala Disdikbud Kabupaten Tasikmalaya, Wandi Herpiandi, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan kepala sekolah serta pengawas sekolah begitu menerima laporan mengenai kondisi ruang belajar tersebut.

Menurutnya, bangunan yang digunakan saat ini merupakan kelas jauh SDN Kubangsari yang telah beroperasi sejak 2015. Keberadaan kelas jauh itu dibentuk atas inisiatif kepala sekolah bersama pemerintah desa untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak di Dusun Mekarjaya yang lokasinya cukup jauh dari sekolah induk.

“Sudah saya konfirmasi kepada kepala sekolah dan pengawas. Kondisi yang diberitakan merupakan kelas jauh SDN Kubangsari yang sudah berjalan sejak tahun 2015. Ini merupakan inisiatif kepala sekolah dan kepala desa waktu itu untuk mengakomodasi siswa dari kedusunan tersebut karena jarak ke sekolah induk sekitar 2,5 kilometer,” ujar Wandi.

Ia menjelaskan, pada awal pendiriannya masyarakat menyediakan sebuah rumah yang kemudian direnovasi secara swadaya agar dapat difungsikan sebagai ruang belajar bagi siswa.

Saat ini, kelas jauh tersebut digunakan oleh 25 siswa, terdiri dari 9 siswa kelas 1 dan 16 siswa kelas 2. Seluruh kegiatan belajar mengajar dilaksanakan oleh seorang guru yang menangani kedua tingkat kelas secara bersamaan.

Wandi menuturkan, sistem kelas jauh memang hanya diperuntukkan bagi siswa kelas rendah. Setelah memasuki kelas 3, seluruh peserta didik akan bergabung ke sekolah induk karena dinilai sudah mampu menempuh perjalanan menuju SDN Kubangsari.

“Ketika menginjak kelas 3, siswa dari kelas jauh bergabung ke sekolah induk karena dianggap sudah mampu menempuh jarak ke sekolah,” katanya.

Untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan, Disdikbud telah menugaskan pengawas sekolah bersama kepala sekolah melakukan peninjauan langsung ke lokasi.

“Saya sudah menugaskan pengawas dan kepala sekolah untuk melihat langsung ke lokasi kelas jauh tersebut,” ungkapnya.

Belum Masuk Prioritas Pembangunan
Terkait kemungkinan pembangunan ruang kelas baru di Dusun Mekarjaya, Wandi menyebut hingga kini belum ada rencana pembangunan karena jumlah peserta didik di wilayah tersebut masih relatif sedikit.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pembangunan unit sekolah baru belum menjadi prioritas pemerintah daerah.

“Untuk di kedusunan itu sepertinya belum ada rencana pembangunan kelas baru, karena jumlah input siswanya secara keseluruhan masih sedikit,” jelasnya.

Belajar di Bangunan Bekas Rumah Panggung
Sebelumnya, kondisi kelas jauh SDN Kubangsari menjadi sorotan setelah diketahui puluhan siswa harus belajar di bangunan bekas rumah panggung yang kondisinya jauh dari kata layak.

Bangunan berukuran sekitar 5 x 4 meter itu berdinding bilik bambu dengan lantai papan kayu yang sebagian telah lapuk. Di ruangan sederhana tersebut, siswa kelas 1 dan kelas 2 mengikuti pembelajaran secara bersamaan tanpa sekat pemisah.

Saat musim hujan, aktivitas belajar kerap terganggu akibat atap yang bocor sehingga air masuk ke dalam ruang kelas. Meski harus belajar dalam keterbatasan sarana dan prasarana, para siswa tetap datang setiap hari dengan semangat untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Sorotan terhadap kondisi kelas jauh ini diharapkan menjadi perhatian berbagai pihak agar akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah terpencil Kabupaten Tasikmalaya dapat terus ditingkatkan, baik melalui perbaikan fasilitas maupun penyediaan sarana belajar yang lebih representatif.