IDERAKYAT.COM – Persoalan fasilitas pendidikan di SDN Kubangsari, Desa Kertaraharja, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, ternyata jauh lebih kompleks daripada yang selama ini diketahui publik.
Setelah kondisi kelas jauh yang memprihatinkan menjadi sorotan, kini terungkap bangunan sekolah induknya pun mengalami kerusakan berat hingga sebagian ruang kelas dan kantor guru ambruk.
Akibat kondisi tersebut, seluruh aktivitas belajar mengajar terpaksa dipindahkan ke bangunan madrasah yang berada tidak jauh dari sekolah. Langkah itu dilakukan demi menjamin keselamatan siswa dan para tenaga pendidik.
Kepala SDN Kubangsari, H. Relin Dodi Purnama, mengatakan kerusakan bangunan menjadi persoalan serius yang menghambat proses belajar mengajar. Ia mengaku prihatin melihat kondisi sekolah yang dinilai sudah tidak memenuhi standar kelayakan.
“Saya baru sekitar tiga bulan bertugas di sini. Secara ideal, SDN Kubangsari membutuhkan 11 ruang kelas untuk melayani seluruh rombongan belajar. Namun kondisi yang ada saat ini masih jauh dari kebutuhan karena sejumlah bangunan mengalami kerusakan berat,” ujar Relin, Rabu (22/7/2026).
Ia menjelaskan, kerusakan paling parah terjadi pada ruang kelas 1 dan kantor guru yang ambruk pada November 2025. Bangunan tersebut merupakan bagian dari gedung yang dibangun melalui program PNM sekitar tahun 2009 dan sebelumnya digunakan untuk kegiatan belajar mengajar siswa kelas IA dan IB.
Kini bangunan itu hanya menyisakan dinding yang retak dan rapuh sehingga dinilai sangat berbahaya apabila tetap digunakan.
Tidak hanya itu, ruang kelas 2, 3, dan 4 juga mengalami kerusakan cukup parah. Plafon bangunan runtuh, kusen pintu dan jendela rusak, sementara sebagian besar kaca jendela pecah sehingga ruang belajar sudah tidak lagi memberikan rasa aman maupun nyaman bagi para siswa.
Kerusakan juga terjadi pada fasilitas penunjang pendidikan. Bangunan perpustakaan dan toilet siswa sudah lama tidak difungsikan karena kondisinya yang tidak layak pakai.
Sebelum kerusakan semakin parah, warga sekitar bersama orang tua siswa sempat bergotong royong melakukan perbaikan darurat pada bagian atap bangunan. Namun upaya swadaya tersebut hanya mampu memperpanjang usia bangunan untuk sementara dan tidak dapat mengatasi kerusakan secara menyeluruh.
Dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, pihak sekolah akhirnya memutuskan memindahkan seluruh kegiatan belajar mengajar ke bangunan madrasah terdekat hingga kondisi sekolah memungkinkan untuk digunakan kembali.
Relin menuturkan, pihak sekolah telah mengajukan usulan revitalisasi bangunan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya. Usulan tersebut telah masuk ke dalam sistem, namun hingga kini belum ada kepastian kapan pembangunan akan direalisasikan.
“Dari dinas disampaikan bahwa usulan kami sudah masuk sistem. Namun untuk pelaksanaan perbaikannya belum bisa dipastikan karena masih menunggu ketersediaan anggaran,” katanya.
Kondisi bangunan induk yang rusak berat ini menambah panjang persoalan yang dihadapi SDN Kubangsari. Sebelumnya, perhatian publik tertuju pada keberadaan kelas jauh sekolah tersebut di Kampung Manglid yang digunakan oleh 25 siswa kelas 1 dan kelas 2.
Mereka harus belajar di sebuah bangunan bekas rumah panggung berukuran sekitar 5 x 4 meter, berdinding bilik bambu tanpa sekat, serta sering bocor ketika hujan turun. Kondisi itu dinilai jauh dari standar ruang belajar yang layak.
Guru, orang tua siswa, dan masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya segera merealisasikan revitalisasi SDN Kubangsari. Mereka menilai anak-anak yang tinggal di wilayah pelosok Kecamatan Taraju memiliki hak yang sama untuk memperoleh fasilitas pendidikan yang aman, nyaman, dan layak sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara optimal.


