4.771 Warga Terdampak, Pemkab Tasikmalaya Berlakukan Siaga Darurat Kekeringan

Tasikmalaya

IDERAKYAT.COM – Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya resmi menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang mulai berdampak di sejumlah wilayah. Status tersebut berlaku selama tiga bulan, mulai 1 Juli hingga 30 September 2026, berdasarkan Keputusan Bupati Tasikmalaya Nomor 3002.2.1/KEP.421-BPBD/2026.

Penetapan status siaga darurat dilakukan setelah dampak kekeringan mulai dirasakan masyarakat di beberapa kecamatan. Hingga pertengahan Juli, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya mencatat sedikitnya lima desa telah mengalami krisis air bersih dengan jumlah warga terdampak mencapai 4.771 jiwa atau 2.753 kepala keluarga (KK).

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan kondisi di lapangan sekaligus menyiapkan langkah-langkah penanganan agar dampak kekeringan tidak semakin meluas.

“Kami mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan. Gunakan air secara bijak, utamakan untuk kebutuhan pokok dan sanitasi. Jika ada wilayah yang mulai mengalami kesulitan air bersih, segera laporkan kepada BPBD agar dapat segera ditindaklanjuti,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).

Selain ancaman kekeringan, BPBD juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.

Roni menegaskan masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah sembarangan, serta tidak meninggalkan api di kawasan hutan maupun lahan terbuka.

“Apabila menemukan titik api atau kepulan asap, segera laporkan kepada petugas agar dapat segera ditangani sebelum meluas,” tegasnya.

Selama masa siaga darurat, BPBD bersama TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta para relawan akan meningkatkan patroli, sosialisasi, dan kesiapsiagaan di daerah yang berpotensi mengalami kekeringan maupun kebakaran lahan. Masyarakat juga diminta mengikuti informasi resmi dari BPBD dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

Di sisi lain, penanganan dampak kekeringan juga dilakukan oleh Forum Koordinasi (FK) Tagana Kabupaten Tasikmalaya melalui pendistribusian bantuan air bersih ke wilayah yang mengalami krisis air.

Salah satu daerah yang menerima bantuan yakni Kampung Sagobog, Desa Cibalanarik, Kecamatan Tanjungjaya. Sebanyak 56 kepala keluarga memperoleh pasokan air bersih yang didistribusikan menggunakan mobil tangki dan dipusatkan di RT 01/RW 01.

Koordinator FK Tagana Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adi Setia, mengatakan bantuan tersebut diberikan karena warga sudah mengalami kesulitan memperoleh air bersih akibat kemarau yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

“Bantuan ini kami salurkan karena warga di sini memang sangat kesulitan mendapatkan air bersih akibat musim kemarau. Kami berharap kebutuhan dasar masyarakat tetap dapat terpenuhi,” katanya.

Pantauan di lokasi, warga tampak mengantre dengan membawa jeriken, ember, dan berbagai wadah penampung air. Air bersih yang diterima dimanfaatkan untuk kebutuhan minum, memasak, mencuci, hingga mandi.

Jembar menegaskan, distribusi air bersih merupakan bentuk kepedulian FK Tagana terhadap masyarakat yang terdampak bencana kekeringan. Pihaknya berkomitmen untuk terus menyalurkan bantuan ke wilayah lain yang membutuhkan.

“Ini merupakan komitmen kami untuk selalu hadir membantu masyarakat. Mudah-mudahan bantuan ini dapat meringankan beban warga hingga sumber air kembali normal,” ujarnya.

Di Desa Cibalanarik sendiri, banyak sumur warga dilaporkan telah mengering dalam dua bulan terakhir. Kondisi tersebut memaksa sebagian warga membeli air bersih atau berjalan cukup jauh menuju sumber air yang masih tersedia.

FK Tagana memastikan penyaluran bantuan air bersih akan terus dilakukan ke desa-desa lain di Kabupaten Tasikmalaya yang terdampak kekeringan selama musim kemarau. Organisasi tersebut juga mengajak masyarakat, komunitas, maupun para donatur untuk turut berpartisipasi agar bantuan dapat menjangkau lebih banyak warga yang membutuhkan.

“Kami berharap semakin banyak pihak yang peduli sehingga kebutuhan air bersih masyarakat selama musim kemarau dapat terus terpenuhi,” pungkas Jembar.