IDERAKYAT.COM – Kepedulian terhadap persoalan sampah di kawasan pedesaan dan aliran sungai terus ditingkatkan melalui kolaborasi berbagai pihak. Mahasiswa Universitas Siliwangi (Unsil) menggelar Talkshow Lingkungan di Desa Sukajadi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (25/6/2026), sebagai upaya membangun kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Mengusung tema “Dari Sungai ke Solusi: Penguatan Kesadaran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah sebagai Langkah Awal Transformasi Lingkungan Desa”, kegiatan tersebut menjadi wadah edukasi sekaligus diskusi mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang dimulai dari tingkat rumah tangga hingga menjaga kelestarian ekosistem sungai.
Dalam kegiatan itu, mahasiswa menghadirkan Kepala Bidang Lingkungan Hidup Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang, Perumahan dan Permukiman, serta Lingkungan Hidup (DPUTRPPLH) Kabupaten Tasikmalaya, H. Farhan, sebagai narasumber utama. Hadir pula tim dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy yang terdiri atas Irfan Hilmi Fauzan, Oky Hendarin Mansur, dan Deni Noviandi.
H. Farhan menjelaskan, persoalan sampah masih menjadi tantangan besar bagi Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya seiring meningkatnya volume sampah setiap tahun. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan sistem pengelolaan sampah, selain dukungan infrastruktur dan teknologi.
Ia mengungkapkan, pemerintah daerah telah menyiapkan strategi jangka panjang melalui pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi modern untuk mengurangi beban sampah sekaligus menghasilkan energi terbarukan.
“Kita harus mulai beralih ke pengelolaan sampah berbasis teknologi. Rencana pembangunan TPST dan PSEL merupakan bentuk komitmen pemerintah. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah,” ujar Farhan.
Selain pembangunan fasilitas, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya juga telah memiliki landasan hukum melalui Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2022 tentang pengelolaan sampah. Regulasi tersebut disusun sebagai pedoman dalam meningkatkan kebersihan lingkungan sekaligus memperkuat peran masyarakat hingga tingkat desa.
Meski demikian, Farhan menegaskan bahwa implementasi aturan tersebut membutuhkan dukungan semua pihak. Tanpa partisipasi aktif masyarakat, pemerintah desa, akademisi, dan berbagai instansi terkait, pengelolaan sampah tidak akan berjalan secara optimal.
Sementara itu, kehadiran tim BBWS Citanduy memberikan perspektif mengenai pentingnya menjaga daerah aliran sungai dari pencemaran sampah.
Sungai memiliki fungsi vital sebagai sumber kehidupan, sehingga membuang sampah ke sungai tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga meningkatkan risiko banjir, pencemaran air, dan kerusakan ekosistem.
Melalui forum diskusi tersebut, para peserta diajak memahami bahwa pengelolaan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan kewajiban bersama.
Edukasi mengenai pengurangan sampah, pemilahan sejak sumbernya, serta pengelolaan berbasis masyarakat menjadi langkah awal menuju desa yang lebih bersih dan sehat.
Kegiatan yang diinisiasi mahasiswa Unsil ini juga menghasilkan komitmen bersama untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, BBWS Citanduy, pemerintah desa, dan masyarakat dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menjadikan Desa Sukajadi sebagai contoh desa yang peduli terhadap lingkungan sekaligus mendukung terwujudnya Kabupaten Tasikmalaya yang ASRI (Aman, Sehat, Rapi, Indah) melalui pengelolaan sampah yang lebih efektif, berwawasan lingkungan, dan berkelanjutan.

