IDERAKYAT.COM – Fajar baru saja menyingsing di Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya. Namun, halaman Masjid Jami Al Ihsan telah dipenuhi puluhan jerigen, galon, dan ember yang berjejer rapi menunggu giliran diisi air bersih. Pemandangan itu bukan terjadi sehari atau dua hari, melainkan telah menjadi rutinitas warga selama hampir dua bulan terakhir.
Bagi ratusan keluarga di Dusun Cipari dan Dusun Cipatat, masjid bukan lagi sekadar tempat menunaikan salat. Di tengah krisis air bersih di Tasikmalaya, masjid menjadi satu-satunya sumber kehidupan setelah sumur-sumur warga mengering akibat kemarau panjang.
Setiap pagi dan sore, ibu-ibu, bapak-bapak hingga remaja datang memikul jerigen kosong. Mereka rela mengantre demi mendapatkan beberapa liter air untuk memasak, minum, mandi, hingga mencuci.
“Air sumur mulai kering sejak akhir April. Dulu menggali tiga meter saja sudah keluar air, sekarang sampai sepuluh meter pun tetap tidak ada air. Akhirnya kami mengambil air ke masjid,” ujar Dedeh Rohayati, warga Dusun Cipari.
Musim kemarau yang baru memasuki bulan kedua sudah membawa dampak besar bagi masyarakat. Hampir 60 hari tanpa hujan deras membuat sumber-sumber air menyusut drastis.
“Di rumah sudah tidak ada air sama sekali. Sumber air dari gunung sekarang dialirkan ke masjid, jadi kami harus antre setiap pagi dan sore,” kata Yayah, warga lainnya.
Di balik antrean panjang itu, pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) harus mengambil keputusan yang tidak mudah. Masjid tetap dibuka untuk melayani kebutuhan warga, namun pengambilan air dihentikan 10 menit sebelum azan agar persediaan air cukup untuk keperluan wudu jamaah.
“Memang aktivitas mengambil air di masjid cukup mengganggu. Kadang air untuk wudu menjadi terbatas. Tapi ini kebutuhan dasar masyarakat, jadi kami tetap mengizinkan. Hanya saja sepuluh menit sebelum azan pengambilan air harus dihentikan,” kata Ketua DKM Masjid Jami Al Ihsan, Uun Suhendar.
Menurut Uun, jika akses air di masjid ditutup, warga harus mencari sumber air lain yang lokasinya cukup jauh dan membutuhkan biaya transportasi yang tidak sedikit.
“Air merupakan kebutuhan dasar. Selama masih mampu membantu masyarakat, kami akan terus membuka akses air. Insya Allah kegiatan ibadah tetap berjalan dengan baik,” ujarnya.
Data Pemerintah Desa Kertanegla mencatat sekitar 600 hingga 700 kepala keluarga terdampak kekeringan. Demi pemerataan, setiap keluarga hanya diperbolehkan membawa pulang dua hingga tiga jerigen air setiap hari.
Kepala Desa Kertanegla, Bunyamin, mengatakan kekeringan di wilayahnya hampir selalu terjadi setiap musim kemarau, terutama di Dusun Cipari dan Dusun Cipatat.
“Ada dua dusun yang mengalami krisis air bersih dengan sekitar 600 kepala keluarga terdampak. Sumber air yang masih tersedia hanya dialirkan ke masjid sehingga warga harus mengantre dan pengambilan air dibatasi,” jelasnya.
Pemerintah desa telah mengajukan permohonan bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya agar segera dilakukan distribusi air bersih melalui BPBD. Namun hingga akhir Juni, bantuan tersebut belum juga terealisasi.
Menurut Bunyamin, bantuan air bersih memang sangat dibutuhkan untuk kondisi darurat. Namun solusi jangka panjang jauh lebih penting agar masyarakat tidak terus mengalami kesulitan setiap musim kemarau.
“Kami berharap ada pembangunan sumur bor sebagai solusi permanen. Selama sumber air belum tersedia, warga akan terus kesulitan setiap musim kemarau,” katanya.
Selama hujan belum turun di wilayah Bojonggambir, antrean jerigen di halaman Masjid Jami Al Ihsan akan terus menjadi pemandangan sehari-hari. Di tempat itulah warga tidak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga mencari setetes air yang menjadi penopang kehidupan mereka.

