IDERAKYAT.COM – Objek Wisata Alam Cipatuh atau Cipanas Atmaji Pancuran Tujuh yang berada di Desa Sundakerta, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Destinasi wisata yang dahulu menjadi salah satu tujuan favorit masyarakat untuk menikmati pemandian air panas alami itu kini terlihat sepi, kurang terawat, dan nyaris kehilangan daya tariknya.
Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah kolam pemandian air hangat yang sebelumnya ramai dipenuhi wisatawan kini tampak terbengkalai. Fasilitas yang pernah dibangun dengan investasi cukup besar juga mulai mengalami kerusakan akibat minimnya pemeliharaan dan pengelolaan secara berkelanjutan.
Padahal, beberapa tahun lalu Cipatuh dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam unggulan di Kabupaten Tasikmalaya. Keindahan alam yang masih asri dipadukan dengan sumber air panas alami menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat favorit untuk berlibur maupun melepas penat.
Kondisi tersebut mendapat perhatian serius dari Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi. Saat meninjau langsung lokasi pada Selasa (7/7/2026), ia mengaku memiliki kenangan tersendiri dengan objek wisata tersebut.
Menurutnya, semasa muda ia kerap mengunjungi Cipatuh bersama teman-temannya untuk menikmati suasana alam dan berendam di kolam air panas alami.
“Dulu saya sering ke Cipatuh karena objek wisata ini sangat favorit. Air panasnya pas, tidak terlalu panas, sehingga nyaman dan menenangkan,” ujar Asep.
Ia menyayangkan potensi wisata yang besar tersebut kini perlahan meredup akibat belum adanya tata kelola yang berkesinambungan. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya berkomitmen mencari solusi agar destinasi wisata tersebut dapat kembali berkembang.
Asep mengatakan, kunjungan bersama tim dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai persoalan yang menyebabkan jumlah wisatawan terus menurun.
“Kami bersama tim hadir untuk melihat langsung kondisi di lapangan, mengetahui persoalannya sejauh mana, kemudian mencari langkah agar kawasan ini bisa hidup kembali,” katanya.
Selain melakukan evaluasi, Pemkab Tasikmalaya juga akan membuka komunikasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk Perhutani. Langkah tersebut dilakukan karena kawasan Cipatuh berbatasan langsung dengan wilayah Karaha Bodas yang diduga memiliki keterkaitan dengan pengelolaan lahan Perhutani.
Ke depan, pemerintah akan menyusun Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, Pemerintah Desa Sundakerta, dan Perhutani. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghadirkan sistem pengelolaan yang lebih baik sekaligus menghidupkan kembali sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat sekitar.
“Kita akan mencari solusi terbaik demi kemanfaatan masyarakat. Jangan sampai investasi yang sudah besar menjadi sia-sia. Potensi ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” tegas Asep.
Sebagai langkah awal membangkitkan kembali popularitas Cipatuh, Pemkab Tasikmalaya juga menyiapkan kegiatan sport tourism bertajuk Cipatuh Hiking Trail.
Kegiatan tersebut akan mengajak komunitas pecinta alam, pelari lintas alam, hingga masyarakat umum menjelajahi jalur hijau di kawasan Sukahening. Event ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali potensi Wisata Air Panas Cipatuh kepada masyarakat luas sekaligus menarik minat wisatawan berkunjung ke Kabupaten Tasikmalaya.
Melalui kolaborasi lintas pihak dan penyelenggaraan event wisata olahraga tersebut, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya optimistis Wisata Air Panas Cipatuh dapat kembali menjadi salah satu destinasi andalan yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat dan sektor pariwisata daerah.

