IDERAKYAT.COM – Insiden penyiraman cairan kimia berbahaya diduga bermotif sakit hati mengguncang sebuah usaha konveksi di Kota Tasikmalaya, Senin malam (05/05/2026).
Akibat kejadian tersebut, enam orang harus mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soekardjo.
Para korban datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) secara bertahap usai waktu Isya. Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr Soekardjo, dr Titie Purwaningsari, menjelaskan bahwa dua korban pertama tiba lebih dahulu, kemudian disusul korban lainnya dalam selang waktu yang tidak lama.
“Total ada enam korban yang mendapatkan penanganan medis di rumah sakit,” ujarnya.
Dari jumlah tersebut, dua korban diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan karena luka yang dialami tergolong ringan, dengan tingkat luka bakar kurang dari satu persen akibat paparan cairan kimia. Keduanya diketahui bernama Hendri dan Fadilah Fatsir, warga Manonjaya.
Sementara itu, empat korban lainnya masih menjalani perawatan intensif di ruang rawat inap sejak malam kejadian. Bahkan, dua di antaranya masih harus menjalani tindakan operasi.
Menurut dr Titie, kondisi korban yang dirawat cukup serius karena mengalami luka bakar di sejumlah bagian tubuh vital, seperti wajah, leher, dan tubuh.
“Luka pada area wajah menjadi perhatian khusus karena terdapat jaringan lunak seperti mata, bibir, dan hidung. Penanganan harus cepat dan tepat untuk mencegah risiko komplikasi,” jelasnya.
Empat korban yang masih dirawat yakni Abdul Holik Setiawan, Rizki, M. Danada, dan Wina Agustina. Tiga di antaranya mengalami luka cukup parah sehingga membutuhkan tindakan medis berupa pembersihan luka hingga operasi ringan, sementara satu korban lainnya dalam kondisi lemah dan memerlukan terapi cairan melalui infus.
Saat ini, keempat korban dirawat di ruang Melati 4 dan terus dipantau secara intensif, terutama pada bagian luka di jaringan sensitif yang berisiko tinggi mengalami infeksi.
“Infeksi pada jaringan lunak bisa berkembang cepat, sehingga penanganan harus maksimal,” pungkasnya.
Sementara itu, salah satu korban, Abdul Holik, mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut terjadi saat para pekerja tengah beraktivitas seperti biasa menyelesaikan pesanan sebanyak 1.000 potong celana dari sebuah perusahaan.
Menurutnya, pelaku yang diduga merupakan mantan pekerja ekspedisi datang pada malam hari dalam kondisi terpengaruh minuman keras sambil membawa dua botol berisi cairan berbahaya.
“Pelaku tiba-tiba datang dan langsung melakukan penyiraman. Sebelumnya juga sudah menyiram korban lain,” ungkapnya.
Ia menduga aksi tersebut dilatarbelakangi rasa sakit hati setelah pelaku diberhentikan dari pekerjaannya. Target utama pelaku diduga adalah pemilik usaha konveksi, namun berhasil melarikan diri sebelum terkena serangan.
“Pemilik usaha berhasil kabur lebih dulu, sementara kami yang ada di dalam menjadi korban,” katanya.
Akibat kejadian ini, sekitar 15 karyawan terdampak, dengan sekitar 10 orang mengalami luka cukup serius dan harus mendapatkan penanganan medis.
Saat insiden terjadi, para pekerja tengah melakukan aktivitas produksi seperti melipat pakaian, memotong benang, hingga mencatat hasil pekerjaan. Korban menduga pelaku tersinggung karena merasa dilaporkan, padahal pihak konveksi hanya berencana menambah tenaga kerja.

