Ketua PD Muhammadiyah Tasikmalaya Dorong Orkestrasi Program, Siapkan Gerakan Kolaboratif

Orkestrasi Program PD Muhammadiyah Kabupaten Tasikmalaya solid mulai dari Pimpinan Pleno, Pimpinan Lembaga dan Majelis hingga para Ketua Ortom: siap wujudkan program kolaboratif. (Foto: iderakyat.com)

IDERAKYAT.COM — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Tasikmalaya periode 2022-2027 mulai mengubah strategi gerakan. Jika selama ini Majelis, Lembaga, dan Organisasi Otonom (Ortom) berjalan dengan programnya masing-masing, kini PDM mendorong adanya orkestrasi program unggulan yang terintegrasi dalam satu panggung kolaborasi.

Gagasan besar tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi (Rakor) dan Evaluasi Program di Aula Hotel Al Hambra, Singaparna, Sabtu (27/9/2026). Kegiatan bertema “Meneguhkan Perjuangan, Menyambut Muhammadiyah Berkemajuan” ini dihadiri lengkap oleh jajaran pimpinan pleno PDM, seluruh Ketua Majelis dan Lembaga, serta pimpinan Ortom se-Kabupaten Tasikmalaya.

Dalam forum tersebut, setiap Majelis, Lembaga dan Ortom tidak hanya diminta melaporkan capaian, tetapi juga diminta menawarkan satu program unggulan yang paling berdampak untuk diorkestrasi bersama.

Ketua PDM Kabupaten Tasikmalaya, Iwa Kurniawan menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak boleh lagi terjebak pada ego sektoral. Setiap unsur memang memiliki Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) yang berbeda, namun tujuan besarnya tetap sama: memajukan umat dan memurnikan agama.

“Lembaga, Majelis dan Ortom ini sebetulnya memiliki Tupoksi dan programnya masing-masing. Tapi kami berharap semua dapat sinergi. Dalam arti program-program unggulan itu diselenggarakan bersama dalam satu waktu dan satu tempat yang sama,” ujar Iwa di atas podium.

Ia mencontohkan, sebuah kegiatan di satu cabang atau ranting bisa menjadi gerakan bersama yang lebih besar. Misalnya, ketika Majelis Tabligh menggelar pengajian akbar, di saat yang sama Majelis Pendayagunaan Wakaf melakukan sosialisasi wakaf produktif, Lazismu menghimpun dan menyalurkan zakat, Majelis Kesehatan menggelar pemeriksaan kesehatan gratis, serta Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah menjadi motor penggerak di lapangan.

“Kalau semua turun bersama, gaungnya akan jauh lebih besar. Masyarakat akan melihat Muhammadiyah hadir secara utuh, bukan parsial. Dampaknya akan lebih terasa, baik bagi masyarakat umum maupun bagi penguatan internal Persyarikatan,” tambah Iwa.

Iwa juga menekankan, konsep orkestrasi ini juga menjadi jawaban atas tantangan keterbatasan sumber daya di tingkat bawah. Dengan kolaborasi, satu kegiatan dapat meng-cover banyak tujuan, lebih efisien secara anggaran, tenaga, dan waktu, namun lebih kaya secara manfaat.

Meski mendorong kolaborasi, aspek evaluasi tetap menjadi fondasi. Menurut Iwa, Rakor ini juga menjadi momen untuk memastikan program kerja yang telah ditetapkan sejak awal periode sebagai amanat Musda tidak berhenti di atas kertas.

“Muhammadiyah itu kan organisasi keagamaan yang berkemajuan. Maka, tidak boleh jalan di tempat. Kami sejak awal periode sudah menyusun dan menetapkan program kerja sebagai penerjemahan atas amanat Musda. Jadi tugas kami memastikan amanat itu terealisasi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Iwa mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur dari terlaksananya kegiatan. Bagi Muhammadiyah, program yang ideal adalah program yang berdampak.

“Boleh jadi semua Majelis, Lembaga dan Ortom dapat menjalankan programnya, tetapi belum tentu memberi dampak. Karena itu kami ukur dari dua sisi: dampak bagi masyarakat dan dampak bagi internal Muhammadiyah,” katanya.

Di akhir arahannya, Iwa memberikan motivasi ideologis kepada seluruh pimpinan yang hadir. Ia mengingatkan bahwa bekerja di Persyarikatan bukanlah untuk mengejar jabatan atau popularitas, melainkan sebagai ladang amal jariah.

“Bertugas di Persyarikatan itu tujuannya untuk kemurnian agama. Makanya, apa yang dikerjakan itu dapat menjadi jariah amal yang mudah-mudahan pahalanya mengalir hingga yaumil akhir,” pungkasnya.

Hasil dari Rakor ini nantinya akan dirumuskan menjadi kalender gerakan bersama, di mana setiap Majelis, Lembaga dan Ortom akan memiliki satu program unggulan terpadu yang menjadi ikon kolaborasi Muhammadiyah Kabupaten Tasikmalaya hingga akhir periode 2027.