IDERAKYAT.COM – Video seorang ibu muda yang marah-marah di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Desa Cipatujah, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, viral di media sosial.
Dalam video tersebut, ibu itu terlihat meluapkan kekesalannya karena tidak mendapatkan bahan bakar minyak (BBM), meski mengaku sudah beberapa kali datang dan mengantre di SPBU tersebut.
Kemarahan ibu tersebut disebut dipicu kebutuhan mendesak untuk mendapatkan BBM karena hendak membawa anaknya yang sedang sakit berobat ke Kota Tasikmalaya.
Dalam rekaman video yang beredar, ibu tersebut terdengar mengungkapkan bahwa dirinya sudah tiga kali mengikuti antrean BBM. Namun, setiap kali mengantre, dirinya tetap tidak mendapatkan bensin.
“Geus tilu kali antri aing ieu rek indit ka Tasik mawa budak gering. Yeuh mobil urang geus tilu kali antri panjang teu kabagean bensin. Antri panjang tadi ieu jalikeun masih antri. Aing tilu kali lain ukur sakali,” ucap ibu tersebut dalam video.
Video itu kemudian menyebar luas di media sosial dan mendapat beragam tanggapan dari masyarakat.
Sejumlah warganet menyoroti panjangnya antrean kendaraan di SPBU Cipatujah. Selain kendaraan, terlihat pula sejumlah jeriken yang ikut mengantre untuk mendapatkan BBM.
Kapolsek Cipatujah, Kompol Supian, membenarkan adanya kejadian yang terekam dalam video viral tersebut.
Menurut Supian, persoalan tersebut bermula ketika ibu yang bersangkutan datang ke SPBU untuk membeli BBM. Ia sempat masuk ke dalam antrean, tetapi kemudian keluar dari barisan.
Beberapa waktu kemudian, ibu tersebut kembali datang ke SPBU. Namun, saat kembali, stok BBM di SPBU tersebut sudah habis.
“Dia sempat ikut antre, namun kembali keluar antrean. Beberapa waktu kemudian datang lagi ke SPBU, namun sudah habis,” ujar Kompol Supian, Selasa pagi.
Setelah video tersebut viral, pihak kepolisian kemudian mengambil langkah untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Polisi mempertemukan pihak SPBU dengan ibu yang bersangkutan untuk melakukan mediasi. Dari hasil pertemuan tersebut, kedua pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.
Kedua belah pihak juga telah saling memaafkan sehingga persoalan tersebut tidak berlanjut.
“Kami sudah memediasi kedua belah pihak. Pihak SPBU dan ibu yang bersangkutan sudah saling memaafkan,” kata Supian.
Terkait antrean jeriken yang terlihat dalam video, Supian menjelaskan bahwa sebagian besar jeriken tersebut digunakan oleh nelayan untuk memenuhi kebutuhan BBM saat melaut.
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena hingga saat ini kawasan Cipatujah belum memiliki SPBU khusus nelayan.
Akibatnya, para nelayan masih mengandalkan SPBU yang tersedia untuk mendapatkan bahan bakar bagi kebutuhan melaut.
“Jeriken ini milik para nelayan yang mengisi bahan bakar. Nelayan belum memiliki SPBU khusus, sehingga memanfaatkan SPBU satu-satunya di kawasan ini untuk kebutuhan bahan bakar,” jelasnya.
Selain nelayan, polisi juga menemukan jeriken yang digunakan oleh sejumlah pelaku usaha kecil untuk memenuhi kebutuhan BBM di wilayah yang belum memiliki SPBU.
Supian mengatakan, pembelian BBM menggunakan jeriken tersebut tidak serta-merta merupakan praktik penimbunan.
Ia menjelaskan, sebagian BBM dibeli untuk memenuhi kebutuhan nelayan, sementara sebagian lainnya digunakan untuk memasok kebutuhan masyarakat di daerah yang belum memiliki SPBU.
“Mayoritas itu jeriken nelayan. Ada juga yang milik penjual eceran. Dari pelosok Cipatujah, bahkan ada dari Bojonggambir yang membeli untuk pasokan bensin di daerah yang tidak ada SPBU,” katanya.
antrean SPBU Cipatujah tidak dapat langsung disimpulkan sebagai praktik penimbunan BBM.
Menurutnya, BBM yang dibeli para nelayan digunakan untuk menunjang aktivitas melaut. Sementara pembelian oleh penjual eceran ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah yang belum memiliki akses SPBU.
Karena itu, polisi membantah adanya narasi bahwa antrean jeriken tersebut merupakan praktik penimbunan BBM.
“Jadi kalau ada narasi penimbunan, itu dipastikan tidak benar,” pungkas Supian.
Peristiwa ibu ngamuk di SPBU Cipatujah tersebut kini telah diselesaikan melalui mediasi. Sementara itu, kondisi antrean BBM di kawasan tersebut menjadi perhatian masyarakat, terutama karena SPBU tersebut menjadi salah satu lokasi utama bagi warga dan nelayan untuk mendapatkan bahan bakar.
