IDERAKYAT.COM – Potret dunia pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya kembali menyisakan ironi. Di tengah semangat para siswa mengukir prestasi, kondisi bangunan SDN 2 Bojonggambir justru memprihatinkan. Sekolah yang selama ini menjadi langganan lokasi perlombaan akademik tingkat Kecamatan Bojonggambir itu kini mengalami kerusakan berat dan terancam ambruk.
Setiap hari, sebanyak 110 siswa harus menjalani kegiatan belajar mengajar di ruang kelas yang atapnya bocor, dindingnya retak, serta plafonnya mulai lapuk. Kondisi tersebut membuat guru dan siswa dihantui rasa waswas, terutama saat hujan deras maupun angin kencang melanda wilayah Bojonggambir.
Ironisnya, sekolah yang berada tepat di tepi Jalan Bojonggambir–Taraju dan berhadapan langsung dengan Gedung PGRI Kecamatan Bojonggambir itu belum pernah mendapatkan rehabilitasi sejak pertama kali dibangun pada tahun 2003. Selama lebih dari dua dekade, kerusakan bangunan terus bertambah tanpa adanya perbaikan menyeluruh.
Kepala SDN 2 Bojonggambir, Ridwan, S.Pd., mengatakan hampir seluruh ruangan mengalami kerusakan. Mulai dari ruang kelas 1 hingga kelas 6, ruang guru, hingga ruang kepala sekolah membutuhkan penanganan segera.
“Semua ruangan rusak. Selain atap bolong, sebagian dinding sudah retak-retak. Kalau musim hujan, ruang kelas dipastikan bocor dan sangat mengganggu proses belajar mengajar,” ujar Ridwan.
Menurutnya, meski sarana dan prasarana jauh dari kata layak, semangat belajar para siswa tidak pernah surut. SDN 2 Bojonggambir tetap mampu mencetak prestasi di berbagai ajang, seperti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) maupun lomba Pendidikan Agama Islam (PAI), baik di tingkat kecamatan maupun Kabupaten Tasikmalaya.
“Anak-anak tetap semangat belajar dan terus berprestasi. Itu menjadi kebanggaan bagi kami, meski mereka belajar dalam kondisi bangunan yang memprihatinkan,” katanya.
Saat ini, SDN 2 Bojonggambir memiliki tujuh tenaga pendidik, termasuk kepala sekolah. Seluruh guru tetap berupaya memberikan pelayanan pendidikan terbaik meskipun harus menghadapi keterbatasan fasilitas.
Guru SDN 2 Bojonggambir, Rosid, mengungkapkan kondisi bangunan semakin mengkhawatirkan setiap musim hujan. Kebocoran terjadi di sejumlah ruang kelas sehingga proses pembelajaran sering terganggu.
“Para guru dan siswa selalu merasa waswas. Kami takut penyangga plafon tidak kuat menahan beban lalu roboh dan menimpa anak-anak,” ungkap Rosid.
Ia menjelaskan, ketika hujan turun, perhatian siswa tidak lagi sepenuhnya tertuju pada pelajaran. Mereka harus berpindah tempat duduk untuk menghindari tetesan air sekaligus merasa cemas dengan kondisi plafon dan atap yang sudah rapuh.
“Yang kami khawatirkan bukan hanya kebocoran, tetapi keselamatan anak-anak. Jangan sampai baru ada tindakan setelah terjadi musibah,” tambahnya.
Di balik kondisi bangunan yang memprihatinkan, SDN 2 Bojonggambir justru menjadi sekolah yang kerap dipercaya menjadi tuan rumah berbagai perlombaan akademik tingkat Kecamatan Bojonggambir. Lokasinya yang strategis membuat sekolah ini mudah dijangkau peserta dari berbagai desa.
Namun, kemudahan akses tersebut berbanding terbalik dengan kondisi fasilitas pendidikan yang setiap hari digunakan siswa. Ruang kelas yang rusak menjadi pemandangan yang kontras dengan berbagai kegiatan pendidikan yang sering digelar di sekolah tersebut.
Pihak sekolah mengaku telah berulang kali mengusulkan rehabilitasi kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya. Sekitar satu bulan lalu, tim dari dinas telah melakukan peninjauan langsung terhadap kondisi bangunan.
Dalam kunjungan tersebut, pihak sekolah mendapat informasi bahwa SDN 2 Bojonggambir akan diusulkan masuk dalam program rehabilitasi sekolah pada gelombang kedua.
Kini, harapan besar disampaikan guru, siswa, dan orang tua murid agar janji tersebut segera direalisasikan. Mereka berharap pemerintah dapat mempercepat pembangunan sebelum kerusakan semakin parah dan menimbulkan musibah yang mengancam keselamatan warga sekolah.
Bagi mereka, sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga tempat menumbuhkan mimpi. Sudah sepatutnya anak-anak memperoleh ruang belajar yang aman, nyaman, dan layak agar dapat meraih prestasi tanpa dibayangi rasa takut akibat bangunan sekolah yang nyaris ambruk.
