Krisis Air Mulai Terjadi di Tasikmalaya, Pemkab Fokus Mitigasi Kekeringan

IDERAKYAT.COM – Musim kemarau mulai berdampak terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Beberapa desa dilaporkan mengalami kekeringan sehingga Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai menyalurkan bantuan air bersih kepada warga.

Wilayah yang mulai terdampak kekeringan di antaranya Cikawungading Kecamatan Cipatujah, Mandalasari Kecamatan Bojonggambir, Sukaherang Kecamatan Singaparna, serta Pasirbeunying Kecamatan Mangunreja.

Pemerintah daerah memperkirakan jumlah wilayah terdampak berpotensi terus bertambah apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.

Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi, mengatakan pemerintah telah mengantisipasi ancaman kekeringan sejak awal musim kemarau dengan menyiapkan berbagai langkah penanganan melalui BPBD.

Menurutnya, distribusi air bersih sudah dilakukan di sejumlah daerah yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.

“Kami sebetulnya sudah mulai bergerak. BPBD sudah turun melakukan penanggulangan kekurangan air dengan cara membagikan air bersih. Saya lihat di beberapa daerah sudah dilakukan,” ujar Asep Sopari, Senin (29/6/2026).

Meski demikian, Asep menegaskan bahwa penyaluran air bersih hanya merupakan langkah darurat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka pendek.

Ia menyebut Pemkab Tasikmalaya kini tengah menyusun strategi mitigasi jangka panjang agar dampak kekeringan dapat diminimalkan setiap kali musim kemarau tiba.

“Kekeringan di Indonesia merupakan siklus yang pasti terjadi. Saat musim hujan kita menghadapi ancaman banjir dan longsor, sedangkan ketika kemarau persoalannya adalah kekurangan air. Karena itu mitigasi harus disiapkan sesuai karakter musim,” katanya.

Salah satu fokus pemerintah adalah memetakan daerah-daerah yang rawan mengalami kekeringan sekaligus memperkuat upaya konservasi lingkungan sebagai langkah pencegahan.

Selain itu, pemerintah juga berencana meningkatkan pembangunan sarana resapan air dan infrastruktur pendukung lainnya agar cadangan air tetap tersedia saat musim kemarau.

Asep menilai konservasi alam menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko kekeringan. Menjaga kawasan resapan air dinilai akan sangat membantu menjaga ketersediaan sumber air bagi masyarakat ketika curah hujan menurun.

Sementara itu, Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin mengajak masyarakat menyikapi pergantian musim secara bijaksana. Menurutnya, di balik musim kemarau terdapat potensi ekonomi yang dapat dimanfaatkan masyarakat, khususnya sektor pertanian.

Ia mencontohkan hasil panen buah-buahan dan tanaman palawija yang justru meningkat pada musim kemarau.

“Pada musim kemarau ada tanaman yang justru menghasilkan panen lebih baik, seperti palawija, mangga, melon, dan semangka. Jadi di satu sisi memang ada kekurangan air, tetapi di sisi lain Allah juga memberikan rezeki,” ujarnya.

Cecep mengaku sempat meninjau kawasan pesisir Cipatujah dan Cikalong. Di wilayah tersebut ia melihat para petani berhasil memanen melon dan semangka berukuran besar dengan rasa yang lebih manis dibanding saat musim hujan.

Namun, di sela kunjungannya ke Kecamatan Karangjaya, Cecep juga menemukan aktivitas penebangan pohon yang disertai pembuangan ranting dan limbah kayu ke aliran sungai.

Menurutnya, tindakan tersebut dapat memperburuk kondisi lingkungan karena berpotensi memicu kekeringan saat musim kemarau dan banjir ketika musim penghujan.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak melakukan penebangan pohon secara sembarangan serta tidak membuang sampah maupun limbah ke sungai.

“Intinya kita semua harus bijak. Jangan menebang pohon jika tidak ada rencana menanam kembali. Kemudian juga jangan membuang limbah apa pun ke sungai,” pungkasnya.