Miris! Duel Siswi SMP di Padakembang Terekam Kamera, Teman-teman Justru Menyemangati

IDERAKYAT.COM – Sebuah video yang memperlihatkan perkelahian dua siswi sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Tasikmalaya viral di media sosial dan memicu keprihatinan luas dari masyarakat.

Rekaman tersebut mulai beredar pada Rabu (29/4/2026) dan dalam waktu singkat telah ditonton ribuan kali oleh warganet.

Dalam video berdurasi singkat itu, terlihat dua pelajar perempuan terlibat adu fisik. Keduanya saling memukul, menjambak, hingga bergulat dan terjatuh ke tanah.

Suasana semakin memprihatinkan karena perkelahian tersebut tidak dihentikan oleh teman-teman di sekitar lokasi. Sebaliknya, sejumlah siswa justru terlihat menonton, merekam menggunakan telepon genggam, bahkan menyemangati aksi tersebut dengan sorakan dan kata-kata kasar.

Salah satu siswi yang terlibat terdengar mengerang kesakitan saat perkelahian berlangsung. Namun kondisi itu tidak menghentikan siswa lain untuk terus merekam dan bersorak, seolah menjadikan kejadian tersebut sebagai tontonan.

Video tersebut pun menuai beragam reaksi dari warganet. Banyak yang menyayangkan terjadinya kekerasan di lingkungan sekolah, terlebih karena direkam dan disebarluaskan.

Salah satu komentar datang dari akun Anggi Lesmana yang menilai kejadian serupa sebenarnya bukan hal baru, namun kini lebih terekspos akibat kemajuan teknologi.

“Dulu mungkin kejadian seperti ini juga ada, tapi sekarang semuanya bisa direkam dan langsung tersebar ke publik, termasuk hal-hal yang seharusnya tidak terjadi,” tulisnya.

Berdasarkan penelusuran, insiden tersebut terjadi di salah satu SMP di Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya, tepatnya di area belakang sekolah, pada Selasa (28/4/2026).

Kapolsek Leuwisari, Iptu Pramono, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menjelaskan bahwa kedua siswi yang terlibat masih berstatus pelajar kelas VII. Perkelahian dipicu oleh perselisihan saat keduanya bermain sepak bola di lingkungan sekolah.

“Awalnya hanya konflik biasa saat bermain bola antar siswa kelas tujuh. Sempat diselesaikan dan mereka berdamai, namun kemudian muncul provokasi dari siswa lain, terutama kakak kelas, sehingga emosi kembali tersulut dan terjadi perkelahian,” jelasnya.

Akibat kejadian itu, salah satu siswi mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuh dan dilaporkan tidak masuk sekolah pada hari berikutnya. Pihak kepolisian saat ini masih mendalami kondisi korban serta menelusuri peran siswa lain yang diduga ikut memprovokasi maupun merekam kejadian tersebut.

Sebagai langkah penanganan, Polsek Leuwisari telah berkoordinasi dengan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Tasikmalaya, Bhabinkamtibmas, serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kabupaten Tasikmalaya. Petugas juga telah mendatangi sekolah untuk melakukan penyelidikan awal dan mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak.

Komisioner KPAI Kabupaten Tasikmalaya, Asep Nurjaeni, menyatakan bahwa pihaknya langsung mengambil langkah pembinaan. Seluruh pihak terkait, mulai dari siswa yang terlibat, orang tua, hingga pihak sekolah, telah dipanggil untuk dimintai klarifikasi dan diberikan pendampingan.

“Kami mengedepankan pembinaan agar kejadian serupa tidak terulang. Semua pihak sudah kami kumpulkan untuk mencari solusi terbaik,” ujarnya.

Asep menegaskan bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan tidak boleh dianggap sebagai hal biasa, apalagi dijadikan tontonan dan disebarluaskan. Ia menekankan pentingnya peran aktif sekolah, orang tua, dan lingkungan dalam menciptakan suasana belajar yang aman dan kondusif.

“Kekerasan di sekolah tidak boleh dinormalisasi. Ini harus menjadi perhatian bersama agar dunia pendidikan benar-benar menjadi tempat yang aman bagi anak-anak,” pungkasnya.