IDERAKYAT.COM – Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menggencarkan gerakan pengelolaan sampah dan penataan kawasan perkotaan Singaparna. Upaya ini dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, tertata, dan nyaman sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Gerakan tersebut merupakan bagian dari program prioritas Bupati dan Wakil Bupati Tasikmalaya melalui program Tasik Hejo yang mengusung filosofi 3L, yakni Jaga Lembur, Jaga Leuweung, dan Jaga Lewi.
Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya, Dr. H. Kurniawan, Ak., CA, mengatakan, kegiatan apel pagi dan kerja bakti kebersihan yang melibatkan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Gedung Bupati (Gebu) bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya membangun kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan.
“Sekilas kegiatan ini sederhana, seperti apel pagi dan menjaga kebersihan lingkungan. Namun, ini merupakan penjabaran filosofi 3L yang dicanangkan Bapak Bupati, yaitu jaga lembur, jaga leuweung, dan jaga lewi,” ujar Kurniawan di Singaparna, Minggu (11/10/2026).
Ia menjelaskan, Jaga Lembur berarti menjaga lingkungan tempat tinggal dan beraktivitas agar tetap bersih, asri, dan sehat. Sementara itu, Jaga Leuweung menekankan pentingnya menjaga kelestarian hutan dan alam, sedangkan Jaga Lewi berkaitan dengan upaya merawat kawasan perairan agar tetap bersih dan terjaga.
Menurut Kurniawan, kompleks perkantoran Gebu yang memiliki luas sekitar 60 hektare juga menjadi ruang terbuka yang dimanfaatkan masyarakat untuk berolahraga. Karena itu, kebersihan dan kelestarian kawasan tersebut perlu dijaga secara bersama-sama.
Pemkab Tasikmalaya kini tidak hanya menggalakkan kegiatan bersih-bersih, tetapi juga memperkuat pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Masyarakat, perkantoran, dan berbagai lingkungan diminta membiasakan pemilahan sampah serta tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai, saluran irigasi, maupun kebun.
TPA Nangkaleah Disiapkan Menjadi TPST Modern
Sebagai langkah jangka menengah dan panjang, Pemkab Tasikmalaya menyiapkan pengembangan sistem pengolahan sampah terpadu. Salah satunya dengan meningkatkan fungsi TPA Nangkaleah menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) modern.
Kurniawan menyebutkan, sampah ke depan tidak hanya ditumpuk atau dibakar, tetapi dipilah dan diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, termasuk Refuse Derived Fuel (RDF), yakni bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari pengolahan sampah.
“Kalau sebelumnya sampah hanya dibuang dan dibakar, nantinya akan dipilah dan diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Insyaallah, groundbreaking TPST Nangkaleah diikhtiarkan mulai Januari mendatang,” katanya.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, menekan kebutuhan lahan, serta membuka peluang pemanfaatan sampah sebagai sumber ekonomi daerah.
Selain TPST, Pemkab Tasikmalaya juga mendorong pengembangan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Penataan PKL hingga Kawasan Irigasi
Di sisi lain, penataan wajah ibu kota Kabupaten Tasikmalaya, Singaparna, turut menjadi perhatian pemerintah daerah. Penataan mencakup kebersihan lingkungan, infrastruktur jalan dan trotoar, kawasan Alun-alun Singaparna, hingga pedagang kaki lima (PKL).
Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin, menegaskan bahwa penataan harus dilakukan secara menyeluruh agar kawasan perkotaan semakin tertib dan nyaman bagi masyarakat.
Ia telah menginstruksikan Sekda dan Asisten Daerah III untuk mengoordinasikan penataan serta kebersihan kawasan ibu kota kabupaten. Gerakan kerja bakti juga terus digalakkan setiap Jumat hingga ke tingkat kecamatan.
“Kami instruksikan Pak Sekda dan Asda III untuk menata dan membersihkan wajah Kabupaten Tasikmalaya. Jangan membuang sampah sembarangan, dan PKL harus ditata supaya lebih rapi. Bersih-bersih ini kami gelorakan setiap Jumat sampai ke kecamatan-kecamatan,” kata Cecep, Senin (12/10/2026).
Perhatian khusus juga diberikan pada kawasan saluran irigasi yang melintasi area perkantoran Gebu. Pemerintah menginginkan kawasan tersebut tetap bersih, tidak dipenuhi sampah, serta tidak terganggu bangunan atau aktivitas yang menghambat fungsi saluran.
Ke depan, kawasan irigasi yang tertata berpotensi dikembangkan secara terintegrasi dengan zona kuliner bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta PKL. Konsep ini diharapkan mampu menciptakan ruang usaha yang lebih tertib sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al-Ayubi, menambahkan bahwa gerakan kebersihan telah dilakukan sejak awal kepemimpinannya bersama Cecep Nurul Yakin. Jika sebelumnya kegiatan banyak berfokus pada pembersihan ilalang dan lingkungan, kini upaya tersebut semakin diarahkan pada penanganan sampah.
“Sejak awal kepemimpinan Cecep dan Asep, gerakan ini sudah digelorakan. Sekarang semakin ditingkatkan, termasuk menata agar sampah tidak menjadi gangguan pemandangan maupun menimbulkan polusi udara,” ujar Asep.
Upaya Pemkab Tasikmalaya dalam memperbaiki wajah ibu kota kabupaten mendapat apresiasi dari masyarakat. Aris, salah seorang warga, menilai kawasan perkotaan mulai terlihat lebih tertata dan nyamaven.
Meski demikian, ia berharap pembenahan terus dilakukan secara konsisten karena masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
“Walaupun masih banyak pekerjaan rumah, paling tidak sekarang sudah mulai tertata. Seperti kawasan Alun-alun dan sekitar Pasar Singaparna, sekarang lebih enak dilihat,” katanya.
Melalui gerakan pengelolaan sampah dan penataan perkotaan ini, Pemkab Tasikmalaya berharap kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan semakin meningkat. Penataan yang berkelanjutan juga diharapkan mampu menghadirkan lingkungan yang sehat sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan di Singaparna dan wilayah sekitarnya.
