IDERAKYAT.COM – Selama bulan suci Ramadan, sebanyak 30 orang tahanan yang berada di ruang tahanan Mapolres Tasikmalaya tetap diberikan kesempatan untuk menjalankan berbagai kegiatan ibadah.
Selain mengikuti pengajian rutin, para tahanan juga menjalankan rangkaian kegiatan keagamaan seperti buka puasa bersama, tadarus Al-Qur’an, salat tarawih, hingga sahur bersama.
Pengajian tersebut disampaikan oleh para ustaz yang sengaja diundang untuk memberikan tausiah kepada para tahanan di ruang tahanan. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan serta pemenuhan hak para tahanan untuk tetap menjalankan ibadah selama menjalani masa penahanan.
Seluruh kegiatan keagamaan itu dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh pihak kepolisian. Namun di luar jadwal tersebut, para tahanan juga kerap melaksanakan kegiatan ibadah secara mandiri di dalam ruang tahanan masing-masing.
Kasat Tahti Polres Tasikmalaya, Aipda Penda, menjelaskan bahwa kegiatan tausiah sebenarnya sudah rutin dilaksanakan meski di luar bulan Ramadan. Namun selama bulan puasa, ada sejumlah kegiatan tambahan yang difasilitasi bagi para tahanan.
“Untuk tausiah sebenarnya di bulan-bulan biasa juga sudah rutin kami laksanakan. Namun khusus di bulan Ramadan memang ada beberapa kegiatan tambahan seperti salat tarawih, buka puasa bersama, sahur bersama, hingga tadarus Al-Qur’an. Selain mengikuti jadwal yang sudah ditentukan, para tahanan juga sering melaksanakan ibadah secara mandiri di dalam ruangannya masing-masing,” ujar Penda saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (5/3/2026).
Penda menuturkan, para tahanan yang terjerat berbagai kasus kejahatan tersebut terlihat sangat khusyuk dalam mengikuti setiap kegiatan keagamaan yang dilaksanakan.
Bahkan, menurutnya, beberapa di antara para tahanan memiliki kemampuan yang cukup baik dalam bidang keagamaan.
“Ternyata masing-masing tahanan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang pandai membaca Al-Qur’an, ada yang bisa mengumandangkan adzan, menjadi imam salat tarawih, bahkan ada juga yang mampu menyampaikan ceramah,” jelasnya.
Untuk pelaksanaan salat tarawih sendiri, biasanya dipimpin oleh salah seorang tahanan yang dinilai memiliki kemampuan untuk menjadi imam.
Salah seorang tahanan yang enggan disebutkan namanya mengaku bersyukur masih diberi kesempatan untuk memimpin salat selama berada di dalam tahanan.
“Alhamdulillah, di kampung saya memang sudah biasa menjadi imam salat tarawih. Jadi di sini juga masih bisa melaksanakannya,” ujarnya.
Sementara itu, tahanan lainnya mengaku keberadaannya di ruang tahanan justru memberikan banyak hikmah dalam hidupnya.
“Alhamdulillah, justru di sini rasanya lebih khusyuk menjalankan puasa. Bisa tadarus juga. Kalau di luar, jangankan tadarus, puasa saja kadang tidak penuh,” ungkapnya.
Meski demikian, ia mengaku tidak ingin berlama-lama menjalani kehidupan di balik jeruji besi. Ia berharap dapat memperbaiki diri setelah bebas nanti.
“Saya benar-benar kapok melakukan kejahatan. Akibat perbuatan saya, anak dan istri ikut menanggung malu. Kalau nanti sudah keluar, saya ingin mencari usaha yang halal. Walaupun hasilnya sedikit, yang penting berkah,” katanya sambil menahan haru.

