IDERAKYAT.COM – Media sosial dihebohkan dengan pengakuan seorang mahasiswi yang mengaku dihamili oleh seorang oknum kepala sekolah di wilayah Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya. Pengakuan tersebut viral setelah unggahannya tersebar luas di media sosial.
Dalam unggahan yang beredar, perempuan yang mengaku sebagai seorang mahasiswi itu menceritakan kondisi psikologis yang sedang dialaminya. Ia mengaku mengalami tekanan mental yang cukup berat setelah mengetahui dirinya tengah mengandung.
Perempuan tersebut menyebut pria yang diduga menghamilinya merupakan seorang kepala sekolah di Kecamatan Cikalong. Ia mengaku telah berusaha meminta pertanggungjawaban kepada pria tersebut, namun hingga saat ini belum mendapatkan respons yang diharapkan.
Dalam pengakuannya, perempuan itu juga mengungkapkan rasa putus asa karena pihak yang diduga sebagai pelaku disebut-sebut menghindari tanggung jawab atas kehamilan yang dialaminya. Kondisi tersebut membuatnya merasa harus menghadapi persoalan tersebut seorang diri tanpa dukungan dari pihak yang seharusnya bertanggung jawab.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto, mengatakan pihaknya saat ini tengah melakukan penelusuran untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar di media sosial.
Menurut Ato, KPAID perlu terlebih dahulu memastikan status perempuan yang mengaku sebagai korban, apakah masih berstatus pelajar atau sudah menjadi mahasiswa. Hal itu dinilai penting untuk menentukan langkah penanganan yang akan dilakukan.
“Pengakuan yang beredar di media sosial itu sedang kami dalami. Kami perlu memastikan apakah yang bersangkutan masih masuk kategori anak atau sudah mahasiswa. Jika ternyata masih di bawah umur atau berstatus pelajar,” ujar Ato.
Ia menjelaskan, hingga saat ini identitas perempuan yang mengaku sedang hamil tersebut belum berhasil dipastikan secara jelas. Pihaknya masih terus melakukan penelusuran untuk menemukan keberadaan perempuan tersebut agar bisa memastikan kondisi yang sebenarnya sekaligus memberikan pendampingan apabila diperlukan.
“Kami masih berusaha memastikan identitas korban. Sampai sekarang belum teridentifikasi secara jelas, sehingga proses penelusuran masih terus dilakukan,” katanya.
Meski demikian, Ato mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengantongi identitas oknum kepala sekolah yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.
Namun, demi kepentingan proses penelusuran identitas maupun jenjang sekolah tempat yang bersangkutan bertugas belum dapat dipublikasikan kepada publik.
“Kepala sekolah yang diduga terlibat sudah kami identifikasi. Namun untuk saat ini kami belum bisa menyampaikan apakah yang bersangkutan kepala sekolah tingkat SD, SMP, atau SMA,” ucapnya.
KPAID Kabupaten Tasikmalaya memastikan akan terus menelusuri informasi yang beredar di masyarakat serta berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait guna memastikan kebenaran kasus tersebut.

