IDERAKYAT.COM – Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya Dinas Sosial PPKB P3A Kabupaten Tasikmalaya melaksnakan inovasi baru dalam upaya percepatan penurunan angka stunting.
Program tersebut diberi nama PESTA TELUR (Program Ekonomi dan Stunting Terpadu melalui Budidaya Ayam Petelur) yang diluncurkan sebagai langkah terpadu menggabungkan peningkatan gizi keluarga sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Program ini menghadirkan konsep budidaya terpadu yang mengombinasikan peternakan ayam petelur, budidaya maggot, serta kolam ikan dalam satu sistem rak vertikal terpadu.
BACA JUGA : Wakil Bupati Pimpin Evaluasi Stunting, Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor di Tasikmalaya
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) pada Dinas Sosial PPKB P3A Kabupaten Tasikmalaya, Yanti Permayanti, menjelaskan bahwa PESTA TELUR merupakan inovasi di bidang pengendalian penduduk dan keluarga berencana yang difokuskan pada penanganan stunting melalui pendekatan ekonomi keluarga.
Menurutnya, program tersebut dirancang untuk membantu keluarga yang memiliki balita stunting maupun ibu hamil agar memiliki akses terhadap sumber protein sekaligus peluang tambahan penghasilan.
“Program ini bertujuan menurunkan angka stunting di Kabupaten Tasikmalaya. Salah satu penyebab stunting adalah kondisi sosial ekonomi keluarga yang masih rendah, terutama pada keluarga yang memiliki balita atau ibu hamil. Ini sebagai solusi untuk menjawab dua persoalan sekaligus, yaitu gizi dan ekonomi,” ujar Yanti.
Dalam pelaksanaannya, setiap keluarga sasaran program akan mendapatkan bantuan 15 ekor ayam petelur lengkap dengan kandang berbentuk paralel vertikal. Kandang tersebut dirancang bertingkat dengan tiga fungsi sekaligus. Pada bagian paling atas ditempatkan ayam petelur sebagai sumber produksi telur.
BACA JUGA : Gerakan Pangan Murah Polres Tasikmalaya, Warga Bisa Belanja Banyak dengan Anggaran Minim
Sementara di bagian tengah kandang digunakan untuk budidaya maggot atau larva lalat yang berfungsi sebagai pakan alternatif bernutrisi tinggi. Sedangkan pada bagian paling bawah disiapkan kolam ikan.
Yanti menjelaskan, konsep tersebut dibuat agar tercipta hubungan simbiosis mutualisme antara ketiga komponen budidaya tersebut.
“Dengan sistem ini kebutuhan pakan ayam, ikan, dan maggot bisa saling mendukung. Maggot dapat menjadi sumber pakan protein bagi ayam dan ikan. Sementara untuk budidaya maggot sendiri, kami sudah bekerja sama dengan program MBG setempat untuk menyediakan limbah organik sebagai bahan pakan maggot,” jelasnya.
Melalui sistem tersebut, satu kandang diharapkan mampu menghasilkan sekitar 15 butir telur setiap hari. Telur yang dihasilkan juga memiliki nilai gizi tinggi karena ayam diberi pakan organik yang diperkaya dengan maggot.
“Telur yang dihasilkan kaya protein, omega 3, dan DHA. Karena proses pemeliharaannya menggunakan pakan organik yang sehat,” katanya.
Hasil produksi telur tersebut nantinya akan dimanfaatkan langsung oleh keluarga penerima manfaat. Sekitar lima butir telur dapat dikonsumsi oleh keluarga sebagai sumber gizi harian, terutama bagi ibu hamil dan balita.
Sementara 10 butir lainnya dapat dijual untuk menambah pendapatan keluarga. Selain bantuan sarana budidaya, pemerintah juga menyiapkan pendamping khusus dari kader TPK untuk memastikan program berjalan efektif.
Pendamping tersebut bertugas memberikan bimbingan teknis mulai dari perawatan ayam, budidaya maggot, hingga pengelolaan hasil produksi.
“Diharapkan tidak hanya membantu memperbaiki asupan gizi keluarga, tetapi juga mampu menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus menjadi salah satu strategi inovatif dalam menekan angka stunting di Kabupaten Tasikmalaya.

