IDERAKYAT.COM – Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menyiapkan langkah strategis untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jalan melalui program Strategi Peningkatan Konektivitas dan Kemantapan Jalan Kabupaten Tasikmalaya Periode 2027–2029.
Program ini menjadi upaya pemerintah daerah untuk menuntaskan kerusakan jalan yang selama ini masih terkonsentrasi di wilayah selatan.
Melalui Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang, Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PUTRLH), Pemkab Tasikmalaya mengusung visi pembangunan jalan LECIR atau Layak, Efisien, Cukup, Integratif, dan Rata, sebagai arah baru pembangunan infrastruktur yang tidak hanya memperbaiki akses transportasi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Kepala Dinas PUTRLH Kabupaten Tasikmalaya, Deden Ramdhan Nugraha, mengatakan kawasan selatan menjadi prioritas utama karena masih menyimpan porsi terbesar jalan rusak di Kabupaten Tasikmalaya.
Berdasarkan data terbaru, panjang jalan kabupaten mencapai 1.230,47 kilometer. Dari jumlah tersebut, 852,19 kilometer atau 69,28 persen telah berada dalam kondisi mantap, sedangkan 378,28 kilometer atau 30,72 persen masih mengalami kerusakan.
“Sebanyak 78 persen dari total jalan rusak atau sekitar 296,5 kilometer berada di kawasan selatan. Wilayah ini mencakup 10 kecamatan yang merupakan lumbung pangan Kabupaten Tasikmalaya dengan komoditas unggulan seperti padi, kopi, kelapa, porang hingga perikanan,” ujar Deden.
Sepuluh Kecamatan Jadi Prioritas
Program Jalan LECIR akan difokuskan pada 10 kecamatan yang memiliki tingkat kerusakan jalan cukup tinggi sekaligus menjadi sentra produksi pertanian dan perikanan.
Wilayah tersebut meliputi: Cipatujah: 35,2 km (kelapa dan perikanan)
Salopa: 32,5 km (padi dan kopi)
Cikalong: 31,4 km (padi dan kelapa)
Bojonggambir: 30,1 km (kopi dan padi)
Papayan: 29,8 km (porang dan kopi)
Mangunreja: 29,4 km (padi dan porang)
Cikatomas: 28,7 km (kelapa dan porang)
Parungponteng: 27,6 km (kopi dan porang)
Sukarame: 26,5 km (padi dan kelapa)
Tanjungjaya: 25,3 km (perikanan dan kelapa).
Menurut Deden, kondisi tersebut menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan yang berbasis data sehingga anggaran dapat diarahkan secara tepat sasaran.
Pemkab Tasikmalaya menargetkan seluruh 296,5 kilometer jalan rusak di kawasan selatan dapat dituntaskan hanya dalam waktu dua tahun, yakni sepanjang 2027 hingga 2028.
Tahap pertama pada 2027 akan difokuskan pada rekonstruksi dan rehabilitasi jalan sepanjang 150 kilometer. Selanjutnya pada 2028, pemerintah akan menyelesaikan sisa 146,5 kilometer hingga seluruh ruas prioritas berada dalam kondisi mantap.
Dengan skema percepatan tersebut, Pemkab Tasikmalaya menargetkan kawasan selatan mencapai 100 persen jalan mantap pada akhir 2028. Secara keseluruhan, tingkat kemantapan jalan kabupaten juga diproyeksikan meningkat hingga 80 persen pada periode 2028–2029.
Dorong Ekonomi dan Kurangi Biaya Logistik
Selain memperbaiki konektivitas antarwilayah, Program Jalan LECIR juga diharapkan memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat.
Perbaikan jalan diyakini mampu membuka akses pasar yang lebih luas bagi hasil pertanian dan perikanan, meningkatkan pendapatan petani, serta menambah nilai jual komoditas unggulan daerah.
Program ini juga diproyeksikan mampu menurunkan biaya logistik hingga 30 persen, meningkatkan efisiensi distribusi barang dan jasa, serta menciptakan sekitar 15.000 lapangan kerja lokal selama dua tahun masa pembangunan.
Tak hanya itu, kualitas infrastruktur yang lebih baik juga akan meningkatkan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan pengguna jalan sekaligus mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik di berbagai sektor.
“Visi LECIR ini bukan sekadar membangun jalan, melainkan membangun urat nadi perekonomian masyarakat. Ketika konektivitas wilayah kuat dan berbasis data yang berkelanjutan, ekonomi lokal akan melesat dan masyarakat Tasikmalaya, khususnya di wilayah selatan, akan langsung merasakan dampak kesejahteraannya,” pungkas Deden.

